Edy Toyibi

Blog pribadi Edy Toyibi

11 April, 2009

Filed under: Politik — edytoyibi @ 10:44 am

Radar Bojonegoro
[ Sabtu, 11 April 2009 ]
Panwaskab Dinilai Lemah
Money Politics Masih Terjadi Jelang Pemungutan Suara

TUBAN – Anggota Komisi A DPRD Tuban, Syakir Syafi’i menilai kinerja jajaran panwas dari tingkat kabupaten hingga desa masih lemah. Buktinya, menjelang pemungutan suara Kamis lalu (9/04) masih terjadi ‘serangan fajar’ yang dilakukan perangkat desa dengan ajakan mencontreng nama caleg dan parpol tertentu.

”Ya kami sangat menyayangkan,” kata dia kepada Radar Bojonegoro kemarin (10/4).

Dia mengungkapkan, ‘serangan fajar’ itu terjadi pada Rabu (8/4) malam lalu. Yakni, sekitar pukul 23.00 di sejumlah desa di Kecamatan Rengel. Menurut dia, perangkat desa terang-terangan membagikan uang kepada warga disertai ajakan mencontreng nama caleg dan parpol tertentu. ”Pembagianya, seperti membagikan BLT (bantuan langsung tunai) itu lho mas,” ujarnya.

Dia menambahkan, besaran uang yang dibagikan kepada warga sangat bervariasi, yakni antara Rp15 ribu hingga Rp 20 ribu tiap wardga. Namun, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini tidak berani menyebutkan parpol yang dituduhnya. ”Ya kami nggak bisa menyebut nama parpolnya,” elaknya. Yang jelas, tegas dia, dirinya siap jika dipanggil oleh panwaskab terkait dugaan money politics menjelang pemungutan suara 9 April lalu.

Anggota Panwaskab Tuban Arif Subiyantoro membantah panwas lemah dalam pengawasan pemilihan legislatif (pileg). Pihaknya menegaskan jajaran panwas dari kabupaten hingga desa telah bekerja maksimal ”Ini kendalanya, karena masyarakat masih banyak yang takut lapor,” ungkapnya.

Panwaskab bakal crosschek jika ada laporan dari masyarakat. Anggota panwaskab lain, Edy Thoyibi juga membantah penilaiain ini. ”Mestinya tidak lantas memvonis,” paparnya. Di Blora, panwaskab menangani laporan dari Diah Trimurti Saleh, caleg Partai Barnas yang tidak masuk DPT. ”Hari ini (kemarin) kami sudah mengirimkan surat panggilan untuk klarifikasi tersebut,” ujar Ketua Panwaskab Blora Wahono kemarin.

Sementara ketua KPUK Blora Moesafa saat dikonfirmasi kemarin siang mengaku belum menerima surat dari Panwaskab. Karena itu, dia mengaku belum bisa memberikan keterangan. Hanya, terkait dengan persoalan DIah Trimurti Saleh, dia sudah melaporkan ke KPU Provinsi. Sedangkan soal hak suara Diah, dia menyatakan tetap hangus. Alasannya, Diah belum masuk dalam DPS, sehingga tidak bisa diakomodasi di DPT.”Kalau tidak masuk DPS tidak bisa memberikan suara. Kita tunggu saja bagaimana petunjuk KPU provinsi. Kita tidak usah berandai-andai dulu,”tandasnya. (zak/ono)

 

7 April, 2009

Filed under: Politik — edytoyibi @ 8:44 am

Radar Bojonegoro
[ Selasa, 07 April 2009 ]
Panwas Klarifikasi Ali Muhtar dan Kristiawan
TUBAN – Panwascam Kerek terus melanjutkan laporan dugaan money politik yang dilakukan oleh Sampan dengan menyertai ajakan menconterng Caleg PPP Ali Muhtar di terhadap sebagian warga Desa Wolutengah. Setelah memintai keterangan pada saksi dan Sampan, kemarin panwascam mengundang Ali Muhtar dan orang tua Ali Muhtar karena disebut-sebut yang memberi uang kepada Sampan sebesar 2,5 juta.

Anggota Panwaskab Tuban, Edy Toyibi menjelaskan, kemarin panwascam Kerek mengklarifikasi terlapor (Ali Muhtar, Red). ”Hasil klarifikasi dia (Ali Muhtar) tidak pernah memberi uang kepada pelaku,” katanya. Selanjutnya, panwascam akan mengklarifikasi ayah angkat terlapor bernama Kadir yang diduga memberikan uang kepada Sampan. ”Sebab kemarin mamsih ditunggu belum hadir,” ujarnya.

Diberitakab, Sampan, warga desa Wolutengah, Kecamaran Kerek beberapa hari yang lalu dilaporkan ke panwascam Kerek. Karena diduga membagikan uang Rp. 10 ribu disertai ajakan untuk mencontreng caleg PPP Ali Muhtar.Ali Muhtar saat dikonfirmasi wartawan koran ini membatah dirinya menyuruh orang lain apalagi orang tuanya untuk melakukan membagikan uang. ”Saya tidak pernah menyuruh apalagi memberi uang, ” aku Ali Muhtar didampingi sekretaris DPC PPP Tuban Syamsul Ma’arif di panwaskab kemarin. Menurut dia, orang tuanya pun tak pernah bersangkut paut hal itu. ”Sebab sudah meninggal sejak 2000,” jelasnya. Sekretaris DPC PPP Tuban Syamsul Ma’arif menyayangkan panwascam kerek yang telah menuduh orang yang sudah meninggal. ”Inikan menuduh orang yang sudah meninggal,” tegas dia.

Sementara itu, daftar caleg yang berurusan dengan Panwaskab Tuban terus bertambah. Kemarin, Caleg PG Kristiawan dilaporkan ke panwaskab karena diduga terlibat money politik yang dilakukan oleh Sri dan Yeni terhadap warga dusun Duren, Desa Jamprong, Kecamatan Kenduruan.

Peristiwa itu, terang Edy Toyibi, terjadi pada Minggu (5/4) lalu sekitar pukul 14.00. Yakni dua orang bernama Sri dan Yeni membagikan uang kepada warga yang berada dalam amplop. ”Dalam amplop ini ada tulisan tangan ajakan untuk mencontreng caleg PG Kristiawan,” terang Edy. Hingga berita ini diturunkan, Kristiawan masih diklarifikasi oleh anggota panwascam Kenduruan. ”Ya belum ada hasilnya, sekarang (kemarin, Red) masih diklarifikasi,” tandas pria asal Bancar ini. (zak)

 

4 April, 2009

Filed under: Lingkungan — edytoyibi @ 8:53 am

Selasa, 17/06/2008 09:25 WIB
Menengok Goa Kelelawar di Tuban
Kotoran Kelelawar Dimanfaatkan Petani Untuk Pupuk
TB Utama – detikSurabaya


Tuban – Gugusan perbukitan di kawasan Punggungan Merkawang, Kabupaten Tuban, Jawa Timur merupakan kawasan perbukitan batuan kars yang mesti mendapat perlindungan.

Selain terdapat goa arkeologi, di kawasan ini juga berjejer goa-goa biologi yang masih hidup dan menjadi sarang kelelawar.

Selain Goa Landak, markas kelelawar di tempat tersebut adalah Goa Jambangan II. Lokasinya berada di bawah goa arkeologi Jambangan I, dengan pintu utama selebar 2 meter dengan tinggi 1,5 meter menghadap utara.

Goa di Desa Mliwang, Kecamatan Keek, Kabupaten Tuban ini memiliki lorong sepanjang 150 meter dengan lebar 1,5 meter.

Pantauan detiksurabaya.com, di dalam lorong terdapat empat unit camber (ruangan luas di dalam goa). Mulai kedalaman meter dari mulut goa, sudah menjadi hunian puluhan ribu kelelawar.

Hewan yang hanya kelayapan di malam hari itu berkembang biak di dalam goa cukup cepat dan baik. Sebab, atap goa Jambangan II ini banyak ditemukan ventilasi sehingga sirkulsai udara bisa normal.

Goa ini juga dimanfaatkan petani pemilik lahan di sekitarnya mengambil kotoran kelelawar untuk bahan pupuk organik.

“Semua petani disini tahu, kalau Goa Jambangan itu tempat kotoran kelelawar untuk pupuk,” kata sejumlah petani yang di temui di lokasi, Selasa (17/6/2008).

Menurut Edy Toyibi, Kabid Konservasi Kawasan Kars se Indonesia dari Himpunan Speleologi Indonesia (HIKESPI), goa ini makin menguatkan posisi punggungan Merkawang dan Mliwang sebagai kawasan kars kelas 2.

Bahkan, tahun lalu dua pakar zoology dari LIPPI, Cahyo Rachmadi dan Sigit, telah melakukan penelitian di goa ini.

“Mereka berpesan agar goa Jambangan II dan Goa Landak I, harus dilindungi dan dijaga kelestariannya. Termasuk juga lingkungan di sekitarnya yang masuk gugusan kars,” tegas Edy Toyibi.

Para petani di wilayah setempat mengungkapkan, sebisa mungkin mereka berupaya membantu agar goa yang dihuni kelelawar tetap bertahan. Sebab, di samping membantu menyediakan pupuk gratis, selama ini keberadaan goa tersebeut tidak mengganggu masyarakat.

“Kami berharap, agar siapapun yang berniat menambang kawasan sekitar goa ini menghentikan kegiatannya. Karena disamping harus dilindungi, gugusan goa di wilayah ini merupakan bagian ekosistem pertanian di sekitarnya,” ungkap Edy Toyibi.

Foto: Kelelawar bergelantungan di pepohonan sekitar goa/TB Utama (gik/gik)

 

Filed under: Lingkungan — edytoyibi @ 8:51 am

Berita & Artikel

<!–
var Back = document.referrer;
–>

Menengok Goa Kelelawar di Tuban

goalawaDalam

Tuban – Kabupaten Tuban di Jawa Timur menyimpan potensi sumber daya alam yang cukup tinggi. Kawasan yang berada di pesisir pantai utara ini diincar untuk industri semen. Namun, justru rencana ekploitasi sumber alam itu justru bisa mengancam potensi alam lainnya, salah satunya keberadaan goa dan isinya.

Salah satu goa yang ada di kawasan itu adalah Goa Landak I. Goa ini ajalnya juga tinggal menanti waktu. Goa yang berada tak jauh dari goa kelelawar Jambangan II, di Desa Mliwang, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban ini, termasuk wilayah bakal tambang pabrik semen PT Holcim Indonesia.

Lokasi tambang perusahaan ini seluas 1075 hektar, diantaranya, termasuk kawasan Goa Jambangan I, Jambangan II dan Goa Landak I. Sekalipun bisa diisolir tidak ditambang, namun diperkirakan populasi sekitar 1 juta ekor kelelawar yang menghuni di dalam goa dikhawatirkan terancam punah.

Karena lingkungan sekitarnya rusak jika batu kapurnya ditambang. Apalagi karakter kawasan batu di wilayah ini termasuk kars. Pantauan detiksurabaya.com, Goa Landak I memiliki lorong sepanjang 223 meter, dengan lebar berkisar 2-3 meter. Atapnya yang setinggi 10 meter menjadi hunian aman kelelawar. Mereka menghuni hamparan lorong sejak kedalaman 4 meter.

Hampir lima cabang lorong di dalamnya dipadati kelelawar. Goa yang berada wilayah Gunung Kolbu ini, memiliki pintu masuk menghadap ke atas dengan lubang selebar 2 meter. Selanjutnya turun ke dasar goa sedalam 3 meter.

“Dari tingkat kepadatannya hunian, Goa Landak I ini termasuk goa terpadat dihuni kelelawar. Sepanjang lorong dengan lima cabang di dalamnya, nyaris dipenuhi kelelawar,” ungkap Edy Toyibi dari Himpunan Speleologi Indonesia (HIKESPI) didampingi Ainul Muzamil aktivis lingkungan dari Wakil Direktur Bidang Industrialisasi Cagar Tuban, Selasa (17/6/2008).

Menurut Muzamil, para aktivis lingkungan di Tuban sebenarnya telah berusaha agar kawasan kars -yang diantaranya- terdapat goa-goa biologi dan arkeologi dipertahankan.

Namun upaya ini disadari sangat berat, karena pihak industri sudah menguasai lahan sekitar lokasi goa tersebut.

Kelelawar yang menghuni goa, setiap petang ke luar untuk mencari makan. Biasanya sampai malam mereka meninggalkan goa. Baru menjelang fajar mereka pulang ke sarangnya.

“Kita butuh kearifan lokal, agar upaya yang dilakukan kawan-kawan aktivis lingkungan mendapatkan perhatian warga masyarakat. Aksi yang kami lakukan semata untuk mempertahankan lingkungan, demi anak cucu kelak,” ungkapnya.

Foto: Pegunungan di Tuban yang banyak menyimpan goa. Salah satunya Goa Landak/TB Utama (gik/gik)

sumber : detik.com

 

goa baru ditemukan

Filed under: Lingkungan — edytoyibi @ 8:50 am

Tuban – Julukan Kabupaten Tuban sebagai Kota Seribu Goa, secara perlahan mulai terbukti. Satu lagi goa ditemukan di Bumi Ronggolawe ini. Goa yang lantai dasarnya terdapat sungai bawah tanah yang aktif mengalir ditemukan di Desa Banyubang, Kecamatan Grabagan.

Goa yang dikenal warga setempat sebagai tempat yang angker ini sempat diteliti tim dari Himpunan Speleologi Indonesia (Hikespi) dan Mahipal Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban pada Jumat (29/8/2008).

“Melihat kondisinya, lorong goa ini masih jauh lebih dari dua kilometer. Karena kondisi dalamnya hiper ventilasi (oksigen tipis), kita hentikan dulu penelusuran di dalamnya,” kata Kabid Konservasi Kawasan Kars se-Indonesia Hikespi, Edy Toyibi, saat ditemui detiksurabaya.com di lokasi goa di Desa Banyubang, Grabagan, Tuban, Minggu (31/8/2008).

Goa User, demikian warga Banyubang menamai goa itu, berada sekitar 3 Km arah barat dari pusat kota Kecamatan Grabagan. Temuan ini dianggap warga sebagai berkah, karena selama ini Desa Banyubang, Desa Ngrejeng dan desa sekitarnya merupakan desa paceklik air bersih jika musim kemarau berlangsung.

“Kami sangat bersyukur ada sungai yang ditemukan di dalam Goa User. Sekarang pemerintah harus memasang pompa agar airnya bisa diangkat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” kata Suratman (51), di samping Karjono (43) dan sejumlah petani setempat yang ditemui detiksurabaya.com di sekitar mulut goa.

Goa dengan mulut selebar 7 meter menurun secara vertical. Jalanan ke dasar goa berupa batuan berundak dengan panjang undakkan berkisar 5-15 meter, sedalam 150 meter hingga lantai dasar. Begitu masuk lantai dasar langsung bertemu dengan sungai bawah tanah yang mengalirkan air jernih.

Goa ini berada di tengah-tengah pertemuan dua punggungan setinggi 50-75 meter. Yakni punggungan Ngrejeng dan Banyubang. Dua lembah ini merupakan cathment area untuk memperkuat posisi Goa User.

Stalagtit maupun stalagmit di lorong dan dinding goa tak begitu banyak. Justru puluhan goulder (bongkahan batu secara alami) dengan berbagai ukuran, terdapat di setiap undakan jalan masuk. “Goa ini merupakan kombinasi goa fosil (kering) dan goa vadosa (goa yang didasarnya terdapat aliran air),” tambah Edy Toyibi.

Meski belum dihitung secara matang, potensi debit air yang deras mengalir di sungai dasar goa, mampu menutup kebutuhan irigasi dan air bersih warga setempat. Apalagi di dalam air terdapat hunian fauna ikan jenis udang dan gastropada (sejenis kerang).

http://surabaya.detik.com/read/2008/08/31/092459/997565/475/goa-sungai-bawah-tanah-ditemukan

 

Filed under: Lingkungan — edytoyibi @ 8:47 am

Selasa, 10/06/2008 16:22 WIB
Lokasi Pembangunan Pabrik Holcim di Tuban Disoal
TB Utama – detikSurabaya


Tuban – Ratusan sumber air di 13 desa sekitar wilayah Punggungan Merkawang, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur rawan kekeringan. Kekhawatiran itu dirasakan warga karena pabrik semen PT Holcim Indonesia akan menambang dan mendirikan pabrik produksi di wilayah setempat.

Di kawasan perbukitan itu, terdapat 298 unit sumber air gantungan hidup warga setempat. Di samping untuk irigasi sawah melalui sumur bor, juga untuk air minum dalam bentuk sumur. Termasuk juga sejumlah sendang dan telaga yang berada di sekitarnya.

Sesuai rencana PT Holcim akan menggali tambang seluas 1.075 hektar di kawasan Punggungan Merkawang. Tahun ini direncanakanan pembangunan pabrik akan dimulai. Punggungan ini berupa bukit sepanjang 9 Km dengan lebar 6 Km, bukit ini dikitari 13 desa di tiga kecamatan (Kerek, Jenu dan Tambakboyo).

“Punggungan Merkawang merupakan kawasan batuan kars penangkap air yang menjadi sumber aliran sumur-sumur di sekitarnya. Kalau kawasan ini ditambang secara geohidrologi potensi sumber air bakal mengering,” tegas Kabid Konservasi Kawasan Kars se Indonesia dari Himpunan Speleologi Indonesia (HIKESPI), Edy Toyibi didampingi DR Eko Haryono dari HIKESPI, kepada detikSurabaya.com di Balai Wartawan Tuban, Selasa (10/6/2008).

Diungkapkan, kawasan kars merupakan batuan yang bisa menyimpan air, sehingga sangat bermanfaat untuk keperluan sumur warga sekitar. Setiap meter kubik batuan ini mampu menyimpan 176-190 liter air.

Sedangkan informasi yang dihimpun dari warga sekitar Punggungan Merkawang menyebutkan, selama ini warga mengandalkan air irigasi dengan teknis sumur bor.

Bahkan, setiap sumur yang berada di lahan persawahan tersebut mampu mengairi 2,5 hektar. Kalau sumur penduduk biasa dipakai untuk satu keluarga. Kalau dirata-rata dimanfaatkan lima orang.

“Selama ini kebutuhan air andalan kami juga sumur. Kalau sawah dengan sumur bor,” kata Syamsul petani setempat saat ditemui di sawahnya.

Para warga mulai menyadari, jika pabrik semen PT Holcim berdiri, sumur bor dan sumur warga bakal menyusut airnya. Karena, selama ini sumur tersebut juga berhubungan dengan Punggungan Merkawang.

Sementara Deni Nuryandain dari Humas PT Holcim Indonesia yang dikonfirmasi
menyatakan, pihaknya tetap mengacu pada aturan hukum yang berlaku. Holcim juga telah menyusun studi AMDAL yang dilakukan pihak Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya.

“Kalau masalah lahan yang dimohon PT Holcim Indoensia termasuk kawasan kars, kami akan koordinasikan dengan bagian yang menangani,” kata Deni saat dihubungi detiksurabaya.com melalui ponselnya.

Foto: Seorang warga memanfaatkan sumber air di Desa Merkawang, Kecamatan Tambakboyo, Kabupaten Tuban./TB Utama (gik/gik)

 

surabaya pagi.com

Filed under: Lingkungan — edytoyibi @ 8:45 am
09 April 2008, 0:06

Diam-diam Semen Gresik Perluas Penambangan

Warga 5 Desa Terancam Kehilangan Penghasilan

TUBAN – Diam-diam PT Semen Gresik (SG) berencana melakukan perluasan area penambangan seluas 800 hektar di lima desa Kecamatan Merak Urak dan Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Kelima desa yang jadi sasaran perluasan area itu diantaranya di Desa Tahulu, Kapu Turi Wetan dan Turi Kulon dan Desa Tegalrejo. Rencana PT SG ini terungkap dalam rapat tertutup dengan Pemkab Tuban di Gedung Korpri Pendopo Tuban, 11 Maret lalu.
Terkuaknya rencana perluasan area penambangan yang dilakukan PT SG ini, berawal dari desas-desus dan tercium kalangan lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Tuban. Kartono (25), warga Desa Tahulu, Kecamatan Merak Urak, mengaku terkejut ketika diberitahu Surabaya Pagi kemarin siang (8/4).

“Duh, saya terkejut sekali mendengar rencana PT SG ini. Sebab, jauh sebelum rencana ini, PT SG melalui anak perusahaannya (PT United Tractor Semen Gresik — PT UTSG) sudah melakukan penambangan di Desa Karanglo Kecamatan Kerek dan Sumberarum, yang diresahkan banyak masyarakat, gara-gara kompensasi yang tidak jelas. Padahal, dampak kerugian yang dirasakan masyarakat setempat sangat jelas sekali, baik material maupun dampak sosial lainnya,” ungkap Kartono penuh prihatin.

Dijelaskan Kartono, 10 tahun lebih warga di sekitar area penambangan yang dilakukan PT UTSG dirugikan, semisal area pertanian menjadi rusak, sumber mata air tercemar dan bahkan menyusut. “Kalau sekarang mau dilakukan perluasan area penambangannya, tentu dampaknya akan lebih jauh lebih luas lagi,” keluh alumni Universitas Sunan Bonang Tuban ini menambahkan.

Menurut catatan Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) CAGAR Tuban, Edy Toyibi, bahwa rencana perluasan area penambangan ini akan merusak sektor pertanian dan lingkungan hidup yang ada di lima desa serta akan mengancam hilangnya sumber penghasilan sekitar 10.000 warga. Yang jelas, mata air Gua Srunggo di Merak Urak akan rusak.

Padahal, sumber mata air dari Gua Srunggo ini selama bertahun-tahun telah mengaliri enam sungai yaitu: Sungai Menengan (Desa Jegulo), Sungai Ngacir (Desa Sumber), Sungai Marjanan dan Sungai Guosari (Desa Domas), Sungai Sumber rejo dan Sungai Guyangan (Desa Sugihwaras).

“Bisa dibayangkan, kalau hulu mata air di Gua Srunggo sudah rusak dan tercemar, maka masyarakat di sekitarnya akan sangat merugi,” kata Edi Toyibi, kemarin.

Selain itu, lanjut Toyibi, sejauh ini mata air dari Gua Srunggo ini menjadi tumpuan penghasilan petani dan petambak di lima desa tersebut. Selain mengaliri 6 sungai itu, kata Toyibi lagi, juga mengaliri 18 irigasi yang mendistribusikan air ke persawahan seluas 6.000 hektar dan 100 hektar tambak.

“Itu sebabnya, kalau rencana itu jadi dikabulkan Pemkab Tuban, maka ekosistem di sekitar area lima desa tersebut menjadi rusak dan ribuan masyarakat akan kehilangan penghasilan,” ungkap Toyibi.

Sementara itu, pihak eksekutif dan legeslatif Tuban belum bisa dikonfirmasi. “Selama dua hari ini (Senin dan Selasa, 7-8/4, red.) semua anggota dewan sedang melakukan kunjungan kerja ke Lumajang dan Malang untuk melakukan studi banding,” kata petugas sekretariat DPRD Tuban. Sedang Kasi Humas Dinas Infokom Tuban, Sukristiono SH ketika dihubungi via handphone sedang tidak di tempat. “Maaf, bapak sedang pergi dan lupa membawa handphone. Ini saya, istri Pak Sukristiono yang sedang menerima telepon Anda,” jawab isteri Sukristiono saat menerima telepon Surabaya Pagi kemarin. gas

Berita Terkait :

Baca Juga :

if(typeof(urchinTracker)!=’function’)document.write(‘<sc’+’ript src=”‘+
‘http’+(document.location.protocol==’https:’?’s://ssl’:’://www’)+
‘.google-analytics.com/urchin.js’+’”></sc’+’ript>’)

_uacct = ‘UA-5636619-2′;
urchinTracker(“/1079408088/goal”);

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.