Edy Toyibi

Blog pribadi Edy Toyibi

16 March, 2009

Filed under: 1 — edytoyibi @ 5:48 pm

Merusak Ekosistem
Senin, 3 Nopember 2008 | 09:58 WIB
Penjarahan gua ini mengakibatkan kerusakan lingkungan yang tak kecil. Wakil Ketua Bidang Sains dan Konservasi Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia (Hikespi), Edi Thoyibi, mengaku sangat prihatin atas perusakan sistematis yang dilakukan warga sekitar kawasan gua itu. Menurut dia, hal itu jelas akan mengganggu ekosistem yang ada di kawasan gua itu. “Akibat ulah mereka, kelelawar penghuni gua banyak yang menghilang karena habitatnya terganggu,’’ ujar Edi. Padahal, kelelawar ini adalah mata rantai terbentuknya lapisan phospat pada bebatuan di gua. Kotoran kelelawar itu dan juga burung, yang larut oleh air hujan, bereaksi terhadap batu gamping, dan akhirnya terbentuklah lapisan phospat itu. Dengan terganggunya habitat mereka akibat penambangan liar itu, kata Edi, sudah bisa diperkirakan apa yang akan terjadi mendatang. Gua-gua di Tuban terkenal memiliki kandungan phospat yang rata-rata tinggi. Berdasarkan penelitian Sigit Wiantoro dan Cahyo Rahmadi dari Bidang Zoologi Penelitian Biologi LIPI Cibinong, dari 12 gua yang diteliti di 12 gua karst Tuban, terdapat 10 jenis kelelawar. Jumlah tersebut diperkirakan bertambah, karena gua karst di Tuban mencapai 200 gua lebih. Populasi kelelawar terbesar ada di gua Temandang , Kec. Merak Urak, yaitu lebih dari 12 ribu individu yang tergolong empat jenis. Kelelawar ini berpengaruh besar bagi ekosistem di dalam gua atau luar gua. Jika satu kelelewar mengkonsumsi serangga sebanyak seperempat dari bobot tubuhnya (rata-rata 12-14 gram) setiap malam, maka koloni kelelawar di Gua Temandang itu, dalam semalam bisa mengonsumsi lebih dari 36 kg serangga. Jika dalam satu kali masa tanam padi, serangga yang dikonsumsi koloni kelelawar ini bisa mencapai 3,24 ton, berarti sangat membantu petani setempat dalam memerangi serangga itu. Menurut Edy Toyibi, keberadaan gua karts di Tuban mempunyai peran dalam mata ratai air bawah tanah. Rusaknya gua-gua itu akan sangat berpengaruh pada sumber mata air yang ada. Rusaknya Gua Bulan, yang hanya beberapa ratus meter dari mata air Gua Srungga, ikut berperan dalam susutnya debit di mata air itu. Pemandangan serupa juga tampak di sejumlah mata air. Debit air di beberapa mata air, seperti di Bektiharjo, Srunggo, Maibit, Ngerong, perlahan namun pasti setiap tahun berkurang. Ada sedikitnya 36 mata air di Tuban yang sangat bergantung pada kawasan bukit kapur Tuban. Hasil penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Bandung tahun 2000, salah satunya menyebutkan keberadaan air tanah di Tuban, terkait erat dengan keberadaan batu gamping di bagian atas, sementara batu lempung dan napal di bagian bawah. Batu gamping berfungsi sebagai peresapan air sekaligus penyimpan air. Potensi penyimpanan air tersebut cukup tinggi. Berdasar percobaan laboratorium, batu gamping kompak mampu menyimpan air sebesar 87,2 liter per m3. Sementara batu gamping putih, yang biasa diambil untuk bata kumbung, mampu menyimpan air lebih besar, yaitu 198 liter per m3. Daerah resapan air di kabupaten ini seluas 34,587 hektare yang dikelompokkan dalam sebelas kawasan. Yang pasti, setiap meter kubik batu kapur yang diambil, akan membawa konsekuensi atas pengurangan cadangan air di Tuban. Dan setiap petak pohon yang gundul, akan semakin mempercepat pengurangan cadangan air itu. Jika satu meter kubik kapur menyimpan 97, 2 hingga 198 liter air, tinggal dikalikan berapa potensi penyimpan air yang telah rusak di kawasan karst itu. Ini masih harus ditambah lagi dengan gundulnya sebagian areal hutan di kawasan ini. Di tengah situasi ini, ada kabar kurang mengenakkan seputar intruisi air laut. Satu sungai kecil yang menampung air dari Gua Srunggo dan Kali Pedot yang menampung air hujan, dan bermuara pinggir laut di Desa Jenu kini asin dan payau. Keasinan air sungai ini kini sudah mencapai kawasan Gedangan-Banaran. Sebuah sumur bor di kawasan Banaran, beberapa ratus meter dari sini, airnya juga sudah payau. Dari bibir pantai, kawasan ini berjarak sekitar 8 kilometer. Bersebelahan dengan sungai payau ini puluhan hektar lahan pertanian yang sudah dipatok-patok dan dibeli pabrik semen, siap diambil tanah liatnya. “Pertanian di kawasan ini, yang bersebelahan dengan sungai ini, sejak 3 tahun lalu sudah tak bisa lagi bagus. Di Jenggolo sana, yang airnya lebih asin, tanaman padi tak bisa tumbuh,’’ kata Andi Harbagyo. Suparman, petani dari Desa Jenggolo, menyatakan asinnya sungai itu terjadi sejak 3 tahun lalu, setelah dikeduk sedalam 2 meter. Pengedukan sungai itu sendiri bertujuan untuk memperlancar aliran air karena setiap tahun kawasan ini selalu tergenang saat hujan datang “Sebelumnya ya tawar, sekarang ini paling yang bagus ya tanaman jagung. Itu pun yang bersebelahan dengan sungai tak bisa tumbuh bagus,” katanya. Asinnya sungai dan intruisi air laut yang terbukti dengan payaunya sumur bor di kawasan Banaran, mungkin sebuah peringatan akan makin seriusnya permasalahan karst Tuban. Mungkin juga pernyataan Kepala KLH Tuban Ir Bambang Irawan benar, bahwa asinnya sungai itu murni karena masuknya air laut permukaan, bukan melalui pori-pori bumi. Demikian pula, mungkin saja benar pernyataan Edi Toyibi bahwa tekanan air tanah dari perbukitan kapur telah surut dan berakibat intruisi air laut. Perlu sebuah kajian dan penelitian. (D2)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s